Kerjasama Bimas Katolik Kemenag RI, KMK Fisip Undana Gelar Workshop di Kupang

  • Bagikan

Kupang, Times Nusa Tenggara Timur-Keluarga Mahasiswa Katolik (KMK) St Agustinus Fisip Undana Kupang bekerjasama dengan Bimas Katolik Kementerian Agama RI menggelar workshop selama dua hari yakni Tanggal 16 hingga 17 Agustus di Aula Paroki Asumpta Kupang.

Kegiatan tersebut diisi dengan dialog dan penyampaian materi kepada peserta yang adalah mahasiswa Katolik dari beberapa Kampus di Kupang.

Ketua Umum KMK St. Agustinus Fisip Undana, Eliasandro Najong, mengatakan bahwa jumlah peserta yang ikut sebanyak 30 orang. Semuanya adalah mahasiswa beragama Katolik.

“Ada sebanyak 20 orang mahasiswa yang berasal dari KMK Fisip, terus 5 orang dari Poltek Kupang sisanya 5 orang dari KMK IP Undana. Jadi totalnya 30 orang,” katanya.

Klik dan baca juga:  Tertusuk Paku Pada Leher di Lapas Lembata, Sondina Letek Dirujuk Hingga ke Kupang

Ia mengatakan kegiatan dilakukan selama dua hari hingga esok. Kegiatan diisi dengan materi dan dialog sejak pukul 09.00 hingga 15.00 petang.

“Ini bentuk internalisasi nilai moderasi agama Katolik di kalangan mahasiswa.
Bagus sekali karena untuk membangun konsepsi mahasiswa bisa hidup secara toleransi, aman dan damai baik di kampus maupun di masyarakat. Situasi sekarang ini dihadapkan dengan berbagai tantangan keagamaan dan ada ancaman dari aliran-aliran tertentu untuk mengubah ideologi bangsa Indonesia yakni Pancasila maka melalui kegiatan ini ke depan kita bisa hidup secara damai dan harmoni,” jelas Elias menyambung.

Secara terpisah, penanggungjawab umum sekaligus Dosen Pembina KMK Fisip Undana Herman Utang mengatakan bahwa bahwa ada banyak target yang ingin di gapai dalam kegiatan workshop tersebut.

Klik dan baca juga:  WALHI NTT Launching Ata Modo, Sebuah Film Dokumenter

“Kita lihat paling jauh kenapa internalisasi agama katolik itu perlu,” jelas Herman.

Menurutnya, persoalannya ada banyak dikotomi, ada banyak warisan-warisan yang mengalami pergeseran karena arus globalisasi. Seperti mengalami masalah stagnan. Orang muda khususnya mahasiswa sangat muda dibelokkan karena internalisasi tidak ditanamkan dengan baik.

“Kita dorong mahasiswa untuk bagaimana belajar internalisasi nilai bukan hanya di kampus,” jelasnya.

“Tujuan dekatnya adalah menangkis radikalisme. Paling tidak mereka lebih kritis untuk menerima. Kita anggap sebagai alat bantu untuk menanamkan nilai-nilai kasih,” sambungnya.

Klik dan baca juga:  Gubernur NTT Perintahkan Kasat POL PP Jemput Paksa Bupati Kupang

Dirinya menambahkan bahwa pemateri yang hadir dalam kegiatan tersebut berasal dari gereja dan akademisi.

“Kita ingin bagaimana perspektif agama katolik melihat moderasi. Berikut dosen-dosen katolik. Arah kita coba melihat bagaimana moderasi itu ditanamkan supaya bagaimana pendidikan agama itu tidak monolog tetapi dialog,” ujarnya Herman.

Target lebih luas menurutnya agar coba merencanakan kegiatan kedepannya bisa menghimpun lebih banyak lagi mahasiswa tidak hanya di kalangan katolik tetapi juga agama agama lain. Mesti keluar karena perjumpaan perjumpaan di masyarkat itu memicu banyaknya perbedaan.

Workshop tersebut dibuka secara langsung oleh Pastor Pembina Keuskupan Agung Kupang Romo Hironimus Nitsae Pr./TN

  • Bagikan