Benahi Birokrasi SBD Gampang Susah

  • Bagikan
Wakil Bupati SBD Marthen Kristian Taka memberikan keterangan di ruang kerjanya - foto TIMES Nusa Tenggara Timur
banner 468x60

Tambolaka, TIMESNTT.COM| Wakil Bupati Sumba Barat Daya, Marthen Kristian Taka mengaku untuk melakukan pembenahan birokrasi merupakan pekerjaan yang gampang-gampang sulit karena harus memulai dari awal lagi membenahi benang yang telah kusut agar menjadi baik. Selama satu tahun masa kepemimpinanya, Marthen Kristian Taka mengaku tetap melakukan pengawasan, melakukan evaluasi terhadap kinerja birokrasi dan aparat pemerintah desa agar sikron mengimplementasi program unggulan pemerintah kabupaten SBD yaitu program 7 jembatan emas.

Memulai karir sebagai PNS, tentu Wakil Bupati Marthen Kristian Taka sangat paham benar dengan kewajiban pelaksanaan tugas bagi para ASN dilingkungan birokrasi pemerintahan daerah, untuk itu menurutnya melakukan pembenahan terhadap kinerja birokrasi harus membutuhkan waktu.

Semenjak dilantik Marthen Kristian Taka mengaku diperhadapkan dengan regulasi yang rumit dampak covid-19, sehingga ketika melakukan evaluasi dan perbaikan kinerja birokrasi sedikit mengalami tantangan karena semua dibatasi oleh situasi pandemic.

“Birokrasi ini ujung tombak dalam menyusun rencana, mengewaluasi, melakukan pembenahan atau memperbaiki dan kemudian melaksanakan, dikala orang birokrasi dan aparat pemerintah desa ini tidak dikelola dengan baik agar sejalan maka disinilah terjadinya kesulitan,” imbuhnya.

Menurut Marthen Kritstian Taka antara birokrasi dan pemerintah desa harus saling sikron, memahami RKPD pemerintah daerah kabupaten SBD sehingga ketika menerjemahkan kedalam program kerja tidak menemukan masalah. Menurut Marthen Kristian Taka kadangkala ketika orang Birokrasi berkunjung ke desa masih banyak aparat pemerintah desa menilai miring terhadap kunjungan kerja para birokrasi.

“Contohya birokrasi kalau tidak di tertipkan untuk mengenal tugas dengan baik lalu turun ke desa untuk mengimplementasikan program dan melakukan kegiatan dalam rangka tugas pelayanan kepada masyarakat, oleh kepala desa dan jajarannya tidak punya pemahaman yang sama disitulah kepala desa menganggap birokrasi yang turun ke desa atau menganggap bahwa OPD yang turun tadi banyak berbohong sementara menurut mereka tidak pernah mendegar Bupati ataupun Wakil Bupati bicara demikian. Sebaliknya juga aparat desa ketika kita tidak meminist mereka dengan baik kalau tidak sikron maka akan terjadi miskomunikasi” terangnya.

Secara berulang kali Wakil Bupati Martehn Kristian Taka menerangkan bahwa ketika mereka menerima jabatan sebagai Bupati dan Wakil Bupati, birokrasi SBD sedang dalam keadaan kusut. Untuk itu mereka sangat berhati-hati untuk melakukan evaluasi kinerja untuk menenpatkan orang-orang yang potensial sesuai dengan bidang keilmuan yang mereka miliki.

“Kami menerima tugas ini dalam keadaan yang sedang kusut, karena dimasa pemerintah Bupati yang lalu menempatkan orang tidak sesuai dengan bidang keilmuannya dan beda dengan yang kami pahami, disini kami sangat membutuhkan waktu untuk melakukan pembenahan birokrasi saat ini, kita di SBD ini gampang-gampang susah, karena tadinya terpatri dalam otaknya selama lima tahun yang lalu dianggap benar, sementara cara kelola ini daerah yang oleh kami berbeda” tegas Kristian Taka.

Dampak dari situasi itu menurut Kristian Taka maka dalam praktik mengimplementasikan program kerja pemerintah Kabupaten oleh masing-masing OPD bisa saja menjadi penghalang karena mereka belum mengenal tugas mereka secara baik. Untuk itu menurutnya harus butuh satu sikap keberanian lalu meninggalkan sisi perasaan atau sisi rasa dalam menegak aturan.

“Implementasinya keberadaan birokrasi inikan sebagian besar berada dalam pola gerak yang seperti tempo dulu, ini kita butuh waktu untuk kita luruskan mereka, kita butuh esktra kerja keras untuk benar-benar kembalikan midset mereka, meluruskan kembali cara pikir mereka sesuai dengan tata kelola daerah dan tata kelola pemerintah yang sebenarnya” imbuh Wakil Bupati.

Bahkan menurutnya selama satu tahun waktu yang sudah cukup untuk menyesuaikan situasi dan iklim birokrasi yang lamban seperti ini, menurutnya kedepan dirinya harus lebih berani lagi untuk menegakkan aturan demi membangun daerah ini. Menurutnya kalau tidak keras dan tidak menegak aturan secara baik untuk membangun daerah ini maka akan menuai buah simalakama terangnya. Bahkan Marthen Kristian Taka saat ini dia sedang menyusun satu format baru yang bisa memungkinkan agar bisa berisnergi dengan OPD dengan apa yang mereka kehendaki untuk membangun daerah ini.  “Keberanian untuk mencoba menyusun format yang bisa dimungkinkan agar bisa bersinergi bagus dengan apa yang kami kehendaki untuk bangun daerah ini,” imbuhnya.

“Memang kata rasa harus dikemsampingkan atau ditinggalkan untuk bertindak tegas terhadap seluruh aparat birokrasi, kalau pakai rasa maka kita akan mendapatkan buah dimalakama. Maka kedepannya sisi rasa harus dikesisikan dulu, tegakkan aturan seperti apa yang saya sampaikan dulu ketika apel perdana bahwa aturan adalah panglima tertinggi berarti rasa harus kita tinggalkan dulu, mari kita semua mengikuti aturan. Kalau semua paham maunya aturan maka mengurus daerah ini sangat mudah tidak akan kesulitan apapun” tegas Marthen Kristian Taka. Menurutnya Sepanjang birokrasi tidak memahami aturan apalagi dibidang tugasnya disaat itu akan kacau terus dan sebagai wakil Bupati yang tugasnya melakukan pengawasan maka ini adalah perkerjaan yang gampang-gampang sulit.

Program Prioritas

Menurut Wakil Bupati Marthen Kristian Taka selama satu tahun pemerintahan Paket Kontak keberhasilan program 7 jembatas emas dikatakan berhasil. Namun ketika ditanya terkait dengan mana yang mesti menjadi program prioritas ditahun 2021, Kristian taka mengatakan bahwa semuanya merupakan program yang tetap menjadi unggulan prioritas. Namun menurutnya dari 7 program jebatan emas itu mesti di urutkan satu persatu untuk dijadikan program yang diberikan perhatian khusus.  “tetap semuanya jadi prioritas tinggal diurutkan kembali yang menjadi perhatian khusus menurut saya itu desa ketahanan pangan dulu, kalau desa pangan sudah digenjot maka dengan sendirinya  kesehatan akan teratasi, kalau kesehatan sudah teratasi maka Pendidikan akan juga teratasi” jelas Kristian Taka.

Ia menambahkan menurutnya kalau masyarakatnya sudah sehat maka masyarakat itu sendiri akan berpikir sehat, menurut Wakil Bupati kalau masyarakat sudah kenyang tidak ada kelaparan maka masyarakat semuanya akan dinyatakan sehat.  Kalau sudah sehat tentu cara berpikir sehat maka desa aman tentram akan teratasi, maka desa air, desa terang dan desa pariwisata akan mengikuti dengan sendirinya. “Jadi menurut saya kita persiapkan panganya dulu, bila perlu pangan berlapis dulu, kita kembalikan kejayaan daerah ini yang oleh nenek moyang daerah ini daerah yang melimpah pangan lokal” beber Kristian Taka.

Kedepan menurutnya Desa Pariwisata harus didukung penuh karena daerah ini mendapatkan kunjungan wisatawan domestic maupun manca negara cukup tinggi. Untuk itu menurut Marthen Kristian Taka sepanjang jalan-jalan yang dilalui untuk menuju ketempat wisata harus segera dibenahi, selain itu hotel-hotel maupun homestay harus segera dipersiapkan lagi karena salah satu penyumbang PAD terbesar juga dari pariwisata, jelas Marthen Kristian Taka. (fBl)

  • Bagikan